Posted by: Indonesian Children | June 21, 2009

Puisi-puisi Mega Vristian : untuk anak

Levy

Levy memang bukan nama gadis China
tapi Levy lahir dan tinggal di Hong kong
dibesarkan dengan makanan bergizi
diberi aneka teh pilihan saat nyam cha
seminggu sekali minum  sup rebusan ginseng dan ayam hitam
dimantrai doa-doa
sesaji bukan cuma ingkung ayam gemuk, jeruk bali besar, apel merah impor segar
satu sloki arak dan kepulan asap dupa
tapi memakan tumbal ratusan ribu tubuh pekerja migran

Nort Point, Agustus 2008

Bulan Berpayung Awan

saat bulan berpayung awan
aku terapung di arus waktu
kulihat bayang wajah emak
berselimut kabut
dua telaga kecil bening dicarut-marut usia
muara air mataku

rindu kami menjelma bunga randu
putih diterbangkan angin
melayang-layang menjemput angan

tunggu, Mak
kita takkan mengulang kisah pedih
saat keranda tergesa menjemput bapak
kita tak mampu menahannya waktu itu

tunggu, Mak
kita bisa ke puskesmas
aku akan pulang berkendara naga Hong Kong

Hong Kong, Yau Ma Tei, Maret 2005

Izinkan  Aku Menangis
: Bapak

kini kau pergi jauh
hingga tanganku tak mampu memelukmu
hingga kakiku tak mampu mengejarmu
hingga mataku tak mampu menatapmu
hingga teriak panggilku tak mampu kau dengar

izinkan aku menangis ya
biarlah airmata ini jadi samudra
mengantarku berenang mencarimu

”tapi surga itu ada di langit?”

(Hong Kong, Mei 2008)

Roda Kereta Maut
 
segalanya menjadi temaram
ketika senja direnggut malam
dan kereta ajal menjemput di tiang gantungan

hari datang dan pergi
menjinjing selaksa teka-teki
kemungkinan pun bak gerbang terkunci

sedangkan ajal dan duka
menunggu di tikungan
menyergap harapan

selamat tinggal
tak sempat terucap kepadamu, nak
saat kereta tiba
mayatku diturunkan dari tiang gantungan
dicatat dengan satu dua kalimat di koran-koran
“hari ini seorang TKW Indonesia digantung hukum Singapura”
lalu hilang di lubuk malam
orang-orang tak sempat menyimpan arsipnya

di bekas roda kereta maut yang tiba dan berlalu
jelas benar kemiskinan menggencet martabat
keadilan hanyalah kata-kata manis
bagi orang tak berdaya
tak masuk hitungan dalam politik

Hong Kong, Yau ma Tei, Mei 2004

HU MUN*

dari jendela kamar
kulihat angin sedang bermain-main
berdesir menggoyangkan ranting-ranting dahan bunga
hingga beberapa kelopak mawar berguguran
seekor semut menggeretnya pada kubangan air
jadilah perahu indah
yang berlayar menelusuri riak waktu
dalam pikiranku

dari jendela kamar
rinduku mengapung di antara gumpalan awan
tak ada layang-layang
yang ujung benangnya dipegang oleh anak-anakku
puluhan ribu lembar hari sudah terlewati
aku tak berdaya untuk tak menapakinya
meski kadang kakiku meloncat riang ringan menari
tapi acapkali terantuk tersungkur jatuh berdarah
orang-orang terkasih cuma berdiam dalam kanvas bayangan
mereka tak melihat senyum dan air mataku

dari jendela kamar
angin menghampiri menengok sejenak sunyi ruang
piano tua, lukisan, dan cat lukis yang mengering
tumpukan koran bekas dan puluhan buku
dan segepok surat yang tak pernah terkirim
mungkin ada di antaranya untukmu
atau untuk Nya

dari jendela kamar
derai hujan, pelangi, mentari
rembulan, ciap burung gagak
hiruk-pikuk kehidupan melintas tak terbendung
tanganku tak seharusnya melanjutkan puisi ini
aku cuma ingin diam memandang keluar
hingga kudengar sebuah suara memanggil
“kau harus bersiap pulang!”

Yau Ma Tei
 
* Hu Mun, cantonese artinya, Jenuh.

YAM CHA
( Tradisi Minum Teh di Hong Kong )

duduk melingkar di meja bundar
cangkir-cangkir kecil rapi berjajar
harum daun teh memacu dahaga
senyumku segera rekah
oleh kelakar nenek Leung Siu-kam

acara minum teh mengalir jadi obrolan nakal
seperti kemarin Lam Long-hin bercerita
dia punya simpanan baru
gadis asal China yang dikurung di Shenzen
syahwat tersalur tanpa keluar banyak dolar
jelas istri dan anak di Hong Kong tak tahu
yang mendengar cuma tersenyum
ini bukan berita mengejutkan
bahkan seperti sudah menjadi tradisi
tapi dadaku terasa tersumbat daun teh kering
nyeri

berulang kali cangkir mungilku terisi
tandas kuteguk
berebut dengan siomay yang kusumpit ke mulut

kini gantian aku punya cerita
maaf, aku harus segera pulang
segera berdandan untuk makan malam
bersama Andy Lau dan Jacky Chan
di emperan Jordan Road
menyantap bebek panggang dengan sup ginseng
bola mata mereka terbeliak nyaris keluar
dipandangnya tubuhku dari ujung kaki sampai rambut

kutinggalkan mereka dengan tusuk gigi di sudut mulutku
malam nanti pasti mereka akan datang lebih awal dariku
ah, biarlah
aku tak mau berebut
toh Andy Lau dan Jacky Chan juga tak bakal hadir

Hong Kong, Hum Hom, Januari 2004

Sajak Perpisahan
: Wing Kan, Wing Nam dan Long Hin

entah ke mana perginya kawanan burung
saat musim gugur memetik kuntum-kuntum bunga
tiga bocah bersimbah air mata
jemari mereka menggenggam dupa nyala
kepulan asap membawa doa
terbang mencari dewa

kuil Wong Tai Shin sunyi
ada dewi termangu di serambi purnama
tak melukis bayangan
dan seorang perempuan bermain sitar
melantunkan jejak langkah empat belas tahun
pada bait-bait pantun
menggelayut pada gerai rambut panjangnya
menjelaga hitam

tiga bocah berjalan bergandengan
menyusuri malam dari kuil ke kuil
lampion di tangan mereka berkedip-kedip

- benarkah dewa tak mengunci gerbang perpisahan?

melempar harap pada pohon tua besar di Sha Tin
selembar ang pao
sebatang daun bawang dan seledri
kepul asap dupa tertancap pada sebuah apel
mereka bersesaji
dua telaga kecil menggenang berair

di dawai sitar jemari lunglai menari
tiga potong moon’s cake utuh di piring
pada Agustus nanti
seorang perempuan dan dua bocah
menikmati purnama dari jendela berbeda
dan perlahan lampion menghembus nyala

Hong Kong, Hung Hom, Agustus 2006
Puisi ini untuk 3 anak asuh saya tercinta di Hong Kong

-Elegi Rahayu

Rahayu perempuan cantik pendiam asal Biltar
bekerja pada Geng Suk Wong
diupah seribu delapan ratus dolar dan libur dua kali saja sebulan
tetap giat bekerja, meski separuh haknya dikebiri
alasan PJTKI baru bekerja di Hong Kong
Orang Indonesia tak sepintar orang Filipina berbahasa Inggrisnya
Lho, bangsa sendiri kok mereka bodohkan

saat liburan belajar mengaji dan menari di taman Victori
seluruh koran dan majalah berbahasa Indonesia
beli dan gratis berusaha dibaca
ikut kumpul serikat buruh makin tambahlah pengetahuannya
aktip andil demo dengan resiko dimusuhi majikan, agen dan KJRI

Tujuh tahun sudah membesarkan bayi majikan
hingga sang  anak di sekolah dasar
Rahayu menuntut  haknya,
pesangon tujuh tahun  dan kekurangan upah kerja
Geng Suk Wong, marah diusirnya Rahayu
dia akhirnya lari ke penampungan buruh bermasalah
dia pun memperjuangkan haknya
tak gentar menghadapi pengacara dan hakim
juga penterjemah asal Indonesia yang suka seeanaknya jadi penterjemah
Rahayu berubah jadi perempuan pemberani

diam-diam Geng Suk Wong berbuat jahat
dibawanya foto Rahayu ke tukang kutuk
samalah seperti dukun di negeri kita
yang letaknya diujung pertigaan arah pasar Wan Chai

Mulailah ritual diadakan
topeng-topeng wajah bergambar harimau berjajar ditanah
sesaji lengkap asap dupa melepas mantra merayu dewa
foto Rahayu dupukuli bangkiak
tak tik tuk tak tik tuk bunyinya begitu berulang
dengan berharap tubuh Rahayu merasakan siksa jarak jauh
suatu malam tepat perayaan Kwai cik
Rahayu kesurupan
padahal Rahayu rajin solat dan mengaji
walau dari hasil mencuri-curi waktu
jika ketahuan  Geng Suk Wong akan memecatnya

Rahayu berubah seperti singa liar
dari mulutnya terdengar suara aungngan
tak berapa lama berubah menjadi penari China
menari lemah gemulai dengan menembang lagu china klasik
matanya melirik putih, bola hitamnya entah bersembunyi dimana

semua yang melihat menebak ini ulah dari Geng Suk Wong
dibawanya Rahayu ke Tai Wai, tempat kuil melumpuhkan syetan
Sementara ayat kursi dan yasin berkumandang
ternyata masih banyak manusia bingung dengan keimanannya

Hari berlari kencang  Geng Suk Wong tersungkur, jatuh
Rahayu menang di pengadilan
malam sebelum kesurupan dia mengaku sedih
menjelang pulang kembali ke tanah air, teringat luka hati
hasil kerja  tujuh tahun lenyap sudah
dilahap sang kekasih yang  menghamili  calon adek iparnya sendiri.

Hong Kong, Nort Point, 27Agustus 2008

 

sumber : kompas

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN 

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Responses

  1. Salam sayang untuk anak-anak sedunia, tumbuhlah kalian jadi anak yang bahagia, ceria dan cerdas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: