Anakku …….. engkaulah buah hatiku.
Kasih sayangku padamu tak terkikis oleh erosi zaman.
Kuselalu memandang wajahmu yang damai ….
Ketika engkau sedang tidur.
Aku tersenyum melihat senyummu, engkau pasti bermimpi indah.
Anakku ……..
Aku selalu merasa bahagia mendengar ceria candamu,
Aku sering merasa cemas mendengar langkahmu berlari,
Aku takut engkau terjatuh,
Jantungku berdegup mendengar isak tangismu.
Aku tak ingin kau bersedih, aku tak ingin engkau dilanda nestapa.
Anakku ……..
Kini engkau telah dewasa, dan aku mulai tua dan pikun.
Tak banyak yang aku pinta.
Tetaplah sabar dan cobalah mengerti tentang diriku.
Kalau aku berlepotan ketika makan …. bersabarlah,
kenang saja ketika aku selalu mengajarimu tentang kebersihan.
Jika aku mengatakan hal yang sama ribuan kali kepadamu …. bersabarlah,
kenang saja ketika aku membacakan cerita yang sama ribuan kali sampai engkau tertidur.
Kalau aku tidak mau mandi, jangan salahkan atau marahi diriku,
kenang saja ketika aku membujukmu dengan seribu alasan agar engkau mau pergi mandi.
Kalau bicaraku melantur, janganlah gugup …. yang terpenting bukanlah omonganku, tapi aku tetap bersamamu, yang mendengarkan kata-kataku.
Bila kakiku sudah berat untuk melangkah, jangan paksa aku berjalan,
ulurkan saja kedua tanganmu,
seperti aku lakukan ketika membimbingmu pada langkah pertamamu.
Suatu hari nanti kau akan tahu, di samping kesalahan-kesalahanku ….. aku ingin melakukan yang terbaik untukmu … untuk jalan hidupmu.
Kau tak harus merasa sedih, marah atau tak berdaya melihat aku di sampingmu.
Cobalah untuk mengerti dan bantulah diriku,
seperti yang aku lakukan padamu ketika engkau memulai hidup ini.
Bila di suatu masa nanti aku berkata aku tak ingin hidup lebih lama lagi,
janganlah bersedih, cobalah faham ……………………..
usia bagiku bukanlah hidup tapi hanyalah bertahan hidup.
Bantulah aku berjalan, tolonglah aku pada akhir hayatku.
Aku akan memberimu senyum dan cinta tak terhingga,
yang selalu kumiliki hanya untukmu.
Selamat tidur anakku, semoga Tuhan tetap bersamamu.
Bengkulu, 17 Desember 2005.
(Musiardanis)
Provided by
POEMS AND SONGS FOR CHILDREN
Yudhasmara Foundation
email : judarwanto@gmail.com
http://poemforchildren.wordpress.com/
Editor in Chief :
Dr Widodo Judarwanto
Copyright © 2009, Poems for Children Network Information Education Network. All rights reserved.





bagus sekali puisinya ……..
By: laeela waryono on November 19, 2009
at 2:27 am
Jd terharu mmbcax…..aq jg punya bpk yg dlux orgx sngat tegas & brwbawa….tp smnjak trserang stroke smuax jd brubh…jlnx trseok2,mknx brlepotan, ngmongx g jelas, u BAK aja (maaf) bjux jd bsah smua….jd mau nangis ngliatx…aq mrsa khilngan sosok seorang bpk yg q kgumi dlu…tp biar gmnpun keadaanx skrg….beliau ttp ayah yg q syangi…..& q brsykur tuhan msh mmbrix umur pnjg…
By: Shilvya azalea on November 30, 2009
at 3:35 pm
aku juga punya 3 anak yang lucu2 jangan kan mumukul membentaknya saja aku tak tega,,karna semunya aku kembalikan ke diriku sendiri,,aku tidak mau di pukul begitulah juga anakku..aku tidak mau di bentak krena takut begitlah juga anak2ku…karena aku lakukan ini untuk perlakuan anak2ku di masa depan terhadap orang yang mareka kasihi termasuk kami orang tuanya…bagiku anak2 ku adalah segalanya bagiku…dia adalah permataku hatiku…tanpa mereka hidupku sia2 tak berarti.
By: susi on April 19, 2010
at 2:38 pm