Posted by: Indonesian Children | August 5, 2009

Lagu Anak-anak Alangkah Sepimu

Di tengah meriahnya bisnis musik rekaman saat ini, lagu anak-anak termasuk sepi. Sederet penyanyi cilik memang bermunculan, tetapi lagu-lagu mereka belum sempat membuat khalayak ikut bernyanyi.

Kita tengok aksi penyanyi cilik dengan lagunya pada acara Bando Ya Ampun di Space Toon—ini adalah stasiun televisi penyuguh hiburan anak-anak di Jakarta. Tersebutlah nama Ryan Prakasha, Icha, Patricia, Alit Dwika, Jessica Nathania, Kevin dan Karyn, Monica, Ihsan Amru dan Misya.

Ryan Prakasha (8) sudah mempunyai tiga album, yaitu Aku Haus, Gendut, dan Pahlawan Muda Indonesia. Album keempatnya, Sunyi, segera akan diluncurkan. Ryan bersuara ngerock, lengkap dengan gaya jingkrak-jingkrak. Ia dikawal musisi seperti Maman Piul dan Iwan Xaverius, bassist band rock Edane.

Icha, penyanyi asal Semarang berumur 4 tahun itu, menyanyikan lagu Lompat-lompat bersama Deddy Dhukun. Lagu itu termuat di album pertama, Bermain. Icha bernyanyi dengan suara anak yang polos alami, seturut organ wicaranya yang belum sempurna.

Ada juga Ihsan Amru dengan lagu Satria Cilik. Marsya (Indonesiaku) dan Jessica Nathania (Aku Profesor Gigi). Lagu itu juga dibuat dalam versi bahasa Inggris dengan judul I Am A Tooth Professor. Kevin dan Karyn menyanyikan Ku Kan Menari.

Stok penyanyi dan lagu bisa dibilang cukup, tetapi sampai hari ini belum populer. Lagu mereka belum dinyanyikan oleh anak-anak di gang-gang seperti Heli-nya Chicha di pertengahan 1970-an atau Air-nya alias ”diobok-obok”-nya Joshua di akhir 1990-an.

Lahan terbatas

Pelaku industri musik rekaman mengeluhkan menyempitnya lahan promosi lagu anak di televisi. Televisi yang dianggap media ampuh itu belakangan tidak membuka acara khusus lagu anak. Alasannya, stok penyanyi dan lagu anak minim.

”Mereka arahkan kami untuk membeli spot acara. Itu tentunya perlu bujet tinggi,” kata Dion dari Ind-Rise Music, label penerbit album Bermain dari Icha.

Hal senada juga diakui Nofrial Anas, ayah Ryan yang memproduseri album anaknya. Dia pernah memasukkan klip Ryan ke RCTI dan Lativi. ”Sekarang hanya sedikit porsi untuk lagu anak, jadi kami ke Space Toon. Ryan mendapat bonus 42 putar di Space Toon,” katanya.

Selain televisi, pengelola radio, kecuali Radio Republik Indonesia, juga tidak banyak membuka acara lagu anak-anak.

Kebanyakan, para penyanyi cilik itu berasal dari kalangan menengah atas. Icha, misalnya, anak seorang pengembang perumahan. Setelah Icha diketahui gemar bernyanyi, Icha sejak Januari 2005 dikirim les privat vokal ke Purwacaraka, Semarang. Lima bulan les vokal, Icha langsung rekaman.

”Iseng-iseng kami ke Jakarta cari pengarang lagu,” kata Kristianti, ibu Icha.

Urusan biaya tampaknya tidak soal benar. Mereka menyebut angka sekitar Rp 300 juta untuk biaya pembuatan album, termasuk promosi. ”Modalnya tidak banyak kok. Kalaupun banyak, apa pun tentu dilakukan untuk menyenangkan anak,” ungkap Nofrial, ayah Ryan Prakasha.

Siklus lima-sepuluh tahunan

Pentas lagu anak-anak jauh lebih meriah di era 1990-an. Saat itu anak-anak terhibur dengan acara seperti Tralala-trilili, acara pemutaran video klip anak yang dipandu Agnes Monica dan Kak Ferry di RCTI. Ada pula Video Anak Anteve. Hampir seluruh stasiun televisi pada era tersebut mempunyai acara serupa. Acara itulah yang memopulerkan nama Trio Kwek-kwek, Enno Lerian, hingga era Joshua, Giovani, dan Saskia.

Jauh sebelum industri rekaman marak, lagu anak-anak sudah hidup dan menyebar dari mulut-mulut ke mulut, termasuk lewat sekolah. Orang mengenal lagu Satu-Satu atau Naik Delman ciptaan Pak Kasur, Menanam Jagung (Ibu Sud), Bintang Kecil (Pak Dal), Pelangi-pelangi dan Bintang Kejora (AT Mahmud).

Album lagu anak dalam bentuk piringan hitam muncul pada tahun 1966. Album yang dibuat oleh perkumpulan guru taman kanak-kanak Jakarta, antara lain, berisi lagu seperti Layang-layangku, Kucingku, dan Ke Pasar Ikan. Lagu tersebut populer di kalangan anak-anak lewat corong Radio Republik Indonesia.

Industri rekaman yang meriah di era 1970-an sempat melahirkan lagu anak-anak yang dibawakan grup dewasa, termasuk Koes Plus dan The Mercy’s. Akhir tahun 1975 hadirlah Chicha Koeswoyo yang meledakkan lagu Heli.

Sejak Heli, lagu-lagu anak-anak dibuat dengan pendekatan industrial. Penyanyi anak-anak bermunculan, dan kebanyakan berasal dari kalangan yang dekat dari industri rekaman. Termasuk anak-anak pemusik dan penyanyi, seperti Joan Tanamal, Adi Bing Slamet, Sari Yok Koeswoyo, Helen Koeswoyo, Vien Isharyanto, Bobby Sandhora-Mukhsin, sampai Ira Maya Sopha.

Pada tahun 1988 muncul lagi ledakan lagu anak-anak dari Puput Melati lewat lagu Satu Ditambah Satu. Puput masih berasal dari keluarga pelaku industri musik, yaitu dari keluarga besar Usman Bersaudara. Album Puput memunculkan album-album lain, antara lain seperti dari Melissa dengan Abang Tukang Baso.

Produksi terus menggelinding hingga era 1990-an. Ria Enes, penyanyi dewasa dengan suara dikanak-kanakkan, dengan lagu Susan Punya Cita-Cita (1992). Penyanyi anak-anak bermunculan lagi. Tahun 1999 muncul Sherina lewat album Jika Aku Besar Nanti. Ia meredefinisi lagu anak dengan garapan musik serius oleh Elfa Secioria. Kemudian muncul Tasya dengan Libur Telah Tiba.

Kini siapa saja yang mempunyai modal bisa melahirkan penyanyi. Popularitas bisa digenjot dengan modal. Tetapi, kualitas dan daya tahan lagu akan diuji oleh telinga zaman.

 

sumber : kompas.com,Susi Ivvaty dan Frans Sartono

 

Provided by
POEMS AND SONGS FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

email : judarwanto@gmail.com 

https://poemforchildren.wordpress.com/

 

Editor in Chief :

Dr Widodo Judarwanto

 

 

 

Copyright © 2009, Poems for Children   Network  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: